Selamat HUT Republik Indonesia KE 70

Disana Bermusuhan Disini Syukuran

Bentrok antara oknum Polri dan TNI masih sering terjadi, seperti peristiwa di Batam baru-baru ini. Tetapi di Surabaya hubungan antara personil cukup mesra

KPK dan BNN - Karena Polisi Tak Dipercaya Lagi

"Sekarang sudah ada BNN dan KPK. Bukan tidak mungkin, akan muncul lembaga baru jika kita (polisi) dinilai tidak optimal, tidak dipercayai lagi," ungkap Sutarman

Polda Kaltim Minim Ungkap Korupsi

Dalam setahun terakhir, Unit Tipikor Polres Balikpapan belum sekali pun melanjutkan kasus tipikor ke tahap penyidikan. Polres Kutai Kartanegara menjadi salah satu yang terbaik dalam penanganan korupsi.

Awasi Lebih Ketat DPRD dan Pimpinan Daerah

Sebenarnya jika mengacu pada praktik korupsi dan politik uang, dua jenis pemilihan kepala daerah itu sama saja rawannya.

Polri dan TNI Jangan Diadu Domba Mafia BBM

Kompolnas : Kasus penembakan oknum Polri dan TNI ada hubungan sebab-akibat terkait serangkaian kasus yang menyebabkan dua institusi negara yakni TNI dan Polri seperti diadu domba.

Rabu, 02 September 2015

Ungkap Dugaan Pungli dilingkungan DPU Kabupaten Gresik

(ILUSTRASI)
Gresik - Metro Bhayangkara news online. Tugas pokok dan fungsi dinas pu sebagai penyelenggara pembangunan rupayanya tidak berjalan sebagaimana mestinya. 

Hal ini berawal dari laporan salah satu rekanan pu inisial RD yang memberikan keterangan nya beberapa waktu lalu di kantor redaksi media ini. 

RD mengeluhkan sikap Dhian selaku kabid bina marga dinas pu yang aragon terhadap rekanan, "harus nya kita sebagai rekanan tidak perlu mengemis pekerjaan kepada dinas, justru dinas yang harus memberikan pekerjaan itu kepada kami selaku rekanan". Keluh RD dengan nada kesal. 

Pasalnya rekanan (kontraktor) sering kali kesulitan untuk mendapatkan paket PL (penunjukan langsung), hal ini dikarenakan setiap rekanan yang ingin mendapatkan pekerjaan dari dinas pu bidang bina marga khususnya harus nyetor dulu sebagai uang absen kepada kabid bina marga. 
Nilainya pun bervariasi, mulai dari 1 juta hingga 5 juta. 

"Namun jangan harap bagi rekanan yang hanya menyetor uang absen cuman 1 juta mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan (paket pl), yang ada hanya janji manis saja dari Dhian, Beda hal nya dengan rekanan yang memberikan upeti (uang absen) mulai 3 juta hingga 5 juta mereka pasti dapet". Terangnya. 

Lanjut RD, "belum lagi setoran dinas 10%". Tandas RD. 

"Bayangkan saja semisal rekanan mendapatkan paket pl dengan nilai 190 juta, dari angka tersebut dikurangi ppn + pph 12% tinggal 167.200.000 dipotong lagi untuk fee dinas 10%, kita pemborong (kontraktor) mau makan apa mas". Ujar RD. Sambung RD, "wong kita kerja otomatis kan kita juga pingin dapat untung toh mas". Imbunya. 

Tak hayal kualitas pekerjaan sering kali dikorbankan dan hanya bertahan seumur jagung. 

"Ya mau bagaimana lagi, memang tradisi atau budaya nya begitu, mau tidak mau kita harus ikuti tradisi yang sudah ada, kalau tidak malah tidak dapat apa - apa". Ujarnya sembari mengakhiri pembicaraan nya. 

Dikonfirmasi ditempat berbeda terkait pungli tersebut Dhian selaku kabid bina marga menyangkal terkait hal itu "Ah itu tidak benar mas, saya tidak pernah meminta upeti itu, semua sudah saya layani, karena kita juga punya raport sendiri untuk memberikan paket tersebut". Jawabnya. 

Disinggung soal setoran 10% ke dinas pihaknya diam seribu bahasa " saya tidak menjabat disini saja, saya sudah kaya mas". Tegas Dhian dengan nada kesal. (DBS)

Selasa, 17 Maret 2015

KEJARI GRESIK PILIH BUNGKAM TERKAIT DUGAAN RAIBNYA BARANG BUKTI BATU BARA

insert : kantor kejaksaan negeri gresik
Gresik, (MB). Kejari gresik akhirnya pilih bungkam terkait raibnya barang bukti batubara. Hal ini disampaikan Kajari gresik Zulbahri Bachtiar kepada awak media ini senin (16/3) "No Coment mas".

Sikap kajari berbanding terbalik 180 derajat dengan statment sebelumnya kamis (12/3) "coba nanti saya tanyakan lagi perkara tersebut kepada kasi pidum dan jaksanya, kan kasus ini sudah lama, apalagi waktu itu bukan saya Kajari nya". Jelasnya.

"Namun, saya akan tetap bertanggung jawab", sambung Zul, "karena bagaimana pun juga saat ini saya sebagai Kajari disini". Tandas mantan Kepala Kejaksaan negeri muarabulian ini.

Keterangan tersebut berubah ketika kajari ditemui dikantornya senin (16/3) "apalagi mas." Kata Zul kepada para awak media yang ingin menagih janji. Ketika dikonfirmasi terkait keberadaan dan jumlah batubara pihaknya menyatakan "No Coment mas". Lanjut Zul, "kan kemarin semuanya sudah jelas, ini semua masih nunggu hasil dari Ahli, toh juga batubara itu masih ada ditempatnya (gudang 409/15 Jl.Tambak Osowilangon)". Jelas Kajari dengan nada kesal. 

insert : foto barang bukti batubara digudang 409/15 Jl.Tambak OsowilangonBukan nya mendapatkan konfirmasi dari pihak kejari, justru awak media ini ditanya balik oleh Kajari "sebentar, sebenarnya kalian itu disuruh siapa sih". Tanya Kajari. Sambung Zul "sabar dulu lah, toh kasus ini sudah lama dan semua masih dalam proses pemeriksaan ahli". Ujar Zul sembari meninggalkan awak media ini. padahal kasus ini sudah sudah diputus 2014 lalu dan berkekuatan hukum tetap (inkracht), kenapa harus menunggu pemeriksaan ahli lagi.  

Jelas dari hasil penelusuran tim investigasi media ini, batubara yang dimaksud oleh Kajari gresik Zulbahri Bachtiar yang adaa digudang penitipan tidak lebih dari 4 M3, dan hal ini juga diperkuat dari keterangan penjaga gudang "sudah lama mas, barang bukti tersebut sudah dipindahkan dari sini". Terang Heri penjaga gudang kepada awak media ini selasa (24/2).

Hingga berita ini diturunkan, pihak Kejari Gresik belum bisa memeberikan kepastian terkait raibnya barang bukti batu bara tersebut. (TIM)

Kamis, 12 Maret 2015

KAJARI GRESIK JANJI AKAN SELIDIKI, SUSUTNYA BARANG BUKTI RAMPASAN BATUBARA KEJAKSAAN NEGERI GRESIK

Kajari Gresik Zulbachri Bahtiar
Gresik, Metro Bhayangkara News Online. Baru tiga (3) bulan menjabat sebagai Kepala kejaksaan negeri (Kejari) gresik Zulbachri Bahtiar sudah dihadapkan dengan beberapa tantangan.

Pasalnya masih ada pekerjaan rumah (PR) yang ditinggalkan pejabat lama Willy Ade Chaidir, seperti kasus batubara ini.


kasus ini terjadi pada 2013 lalu, yang kemudian diputus oleh pengadilan negeri gresik pada agustus 2014 lalu, dengan amar putusan : Batubara dirampas untuk negara.


Jaksa Penuntut Umum (JPU) selaku pelaksana (eksekutor) putusan Hakim nampaknya  tak serius menjalankan amar putusan tersebut.


Batubara sebanyak 5 ribu MT yang diangkut TB. Delta sentosa 7 - BG riweli 2 dan ditangkap oleh Dit Pol Air Polda Jatim pada 2013 lalu,  dibiarkan begitu saja dilokasi gudang penitipan barang bukti yang berada di Jl.Tambak Osowilangon no.409/15.


Hingga saat ini barang bukti tersebut dibiarkan kehujanan dan kepanasan, namun jumlahnya tak sebanyak yang kita bayangkan.


Ditemui dikantornya, Zulbachri mengatakan "lho bukan nya kemarin sudah dijelaskan oleh Kasi Pidum dan Jaksanya".Jawab Zul.


Lanjut Zul , "coba nanti saya tanyakan lagi perkara tersebut kepada kasi pidum dan jaksanya, kan kasus ini sudah lama, apalagi waktu itu bukan saya Kajari nya". Jelasnya.


"Namun, saya akan tetap bertanggung jawab", sambung Zul, "karena bagaimana pun juga saat ini saya sebagai Kajari disini".Tegas mantan Kepala Kejaksaan negeri muarabulian ini.


Ketika dikonfirmasi terkait menyusutnya batubara tersebut, pihaknya menyampaikan "akan kami selidiki dulu, mohon waktu yaa mas, yang pasti selama saya menjabat disini tidak akan ada hal-hal seperti yang dirumorkan diluar". Ujarnya.  "Ngapain sih kita ungkit-ungkit yang lama, mari kita sama-sama menata apaaa yang akan terjadi besok". Imbuh Kajari Sembari mengakhir pembicaraan. (
TIM)

SUSUTNYA BARANG BUKTI BATUBARA KEJAKSAAN NEGERI GRESIK, MENUAI TANDA TANYA ?


insert : Tim JPU kejaksaan negeri gresik. Lila SH.
JPU : “Menyusutnya Jumlah batubara mutlak karna faktor alam”

Gresik, (MB). Menyusutnya barang bukti batubara hasil rampasan Kejaksaan Negeri (Kejari) Gresik menuai banyak tanda tanya, pasalnya jumlah penyusutan batu bara tersebut sungguh tidak wajar dari jumlah awal kurang lebih sekitar  5,046,821 MT kini menjadi 4 m3.

Kejadian ini berawal ketika tim patroli Ditpolair Polda Jatim melakukan patroli menggunakan kapal polisi X-2001 di perairan gresik pada hari minggu (21/7/2013) lalu, dan melakukan pemeriksaan dan penangkapan terhadap TB.Delta Sentosa 7-BG Riweli  yang mengangkut batubara sebanyak 5,046,821 MT yang diduga tidak sesuai dokumen sebagaimana dimaksud dalam pasal 158 dan pasal 161 UU RI No.04 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara.

Akhirnya kasus ini dilimpahkan ke kejaksaan negeri gresik untuk menjalani proses hukum selanjutnya. Dan diputus oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Gresik senin (25/8/2014).
Ada yang menarik dalam amar putusan Nomor.233/Pid.B/2014.PN.Gs, terdakwa a.n T.N dan P.G.S dijatuhi Hukuman Percobaan (bebas bersyarat), dan yang lebih menarik dalam amar putusan tersebut jumlah barang bukti batubara yang dirampas untuk Negara tidak dicantumkan jumlahnya.

Ini tidak dibenarkan, dalam perkara tindak pidana wajib dicantumkan jumlah/nilai barang bukti yang dirampas untuk Negara, hal ini juga dibenarkan oleh beberapa orang yang berkompeten dibidangnya, “Tidak benar itu mas, dalam setiap perkara pidana jumlah atau nilai barang bukti yang dirampas untuk Negara wajib dicantumkan jumlah atau nilainya.” Terang nara sumber yang tidak mau namanya dikorankan.

Tim (red) mencoba mengorek keterangan kepada pihak kejaksaan terkait menyusutnya barang bukti batubara tersebut. Pada hari pertama tim (red) menemui kesulitan untuk mendapatkan konfirmasi kepada Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Gresik Masnur SH. M.Hum pasalnya masnur tidak berkenan memberikan keterangan apapun yang berkaitan dengan perkara, “darimana mas, dari PERS ya, ada apa ?” tanya Masnur. 

“kalau mau tanya yang berkaitan dengan perkara,” lanjut Masnur, “silahkan ke pak kasi intel dulu karena mekanisme yang ada dikejaksaan setiap media yang ingin konfirmasi yang ada kaitan dengan perkara harus melalui kasi intel dulu.”terangnya.

Tidak putus asa sampai disitu tim (red) mencoba menemui kasi intel kejari gresik namun kasi intel tidak ada ditempat, dan hanya bertemu dengan staf intel.

Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan tim (red), akhirnya kami diantarkan keruangan kasi pidum oleh staf intel untuk mendapatkan konfirmasi langsung dari kasi pidum, namun sayang lagi-lagi kasi pidum menolak memberikan statmentnya, “mohon maaf mas, saya tidak bisa memberikan konfirmasi yang anda minta, memang ini perkara pidum cuman untuk memberikan keterangan harus satu pintu melalui kasi intel.” Jawab Masnur dengan wajah tegang.

Ditanya tentang dirinya selaku ketua Tim JPU, pihaknya membantah dan melemparkan kepada Lila SH sebagai JPU nya, “memang saya selaku kasi pidum sebagai ketua tim namun sebagai control saja, dan yang tau persis perkara ini adalah Lila dan Handaya (tim JPU yang sudah pindah tugas dari kejari gresik). Silahkan tunggu kasi intel dulu.” Terang Masnur seakan ingin cuci tangan terkait perkara ini.

Sesaat menunggu kedatangan kasi intel, tiba-tiba kami (red) dipanggil oleh salah satu penjaga kantin kejaksaan , “mas dipanggil Bu Lila diruangan nya.” Panggilnya.

Di ruang terpisah Lila SH yang juga sebagai tim JPU dalam perkara ini, mengatakan “lha iya, Bu masnur itu gimana, wong jelas-jelas dia sebagai ketua tim JPU nya kok malah melemparkan kepada saya, wes repot–repot mau dibantah itu juga pimpinan, maklum lha mas namanya juga anak buah.” Tandas Lila dengan nada kesal. Jadi begini mas, sambung Lila, “daripada repot repot menunggu kasi intel datang, lebih baik ngobrol ngobrol disini sambil minum kopi, sudah tidak usah menunggu kasi intel toh perkara ini kan sudah lama, apa tidak kadaluarsa pemberitaan nya.” Imbuh Lila.

Kalau memang masih memaksakan untuk ketemu kasi intel, “ndak tak sangoni lho.” Seperti ditirukan (tidak saya kasih uang saku lho). Dengan sedikit memaksa kepada kami (red). “ayo mas tidak apa-apa, terima saja.” Dengan nada setengah memaksa,. Namun tetap kami (red) tolak sembari melangkah keluar ruangan.

Ditanya tentang keberadaan barang bukti batubara tersebut, Lila menjelaskan “untuk barang bukti batu baranya kami titipkan di gudang di daerah osowilangon Surabaya.” Jelas Lila.

Akhirnya tim (red) memutuskan untuk menelusuri keberadaan barang bukti batubara tersebut di sebuah gudang no.409/15 milik Ahok yang ada di Jl.Tambak osowilangon, sungguh disayangkan gudang yang disewa sebagai penitipan barang bukti batubara yang disita untuk Negara dan mempunyai nilai ekonomis yang cukup besar ini benar – benar tidak layak, tempatnya sangat becek dan penuh dengan genangan air.

Digudang tersebut kami hanya melihat beberapa tumpukan kecil bekas batubara, dan yang paling mengejutkan lagi, salah seorang penjaga gudang memberikan keterangan kepada tim (red) “bahwa tumpukan itu bukanlah batu bara, melainkan sisa-sisa tanah yang dikeruk bekas penyimpanan batubara,” Imbuh heri penjaga gudang. Sambung heri “batubara yang dulu dititipkan disini sudah lama dipindahkan.” Ditanya kemana dipindahkan, “waduh kalau soal itu saya kurang mengerti mas, yang pasti didalam gudang itu sudah tidak ada batu bara.” Jawab Heri.

Keesokan hari tim (red) diterima oleh kasi intel, kasi pidum dan juga Lila diruangan kasi pidum, Nampak raut wajah yang tegang pada wajah kasi pidum dan kasi intel, “jadi untuk permasalahan batubara tersebut kan sudah putus atau inkra, jadi apalagi yang mau dipermasalahkan.” Sahut kasi intel sambil memulai percakapannya.

Ditanya terkait jumlah penyusutan barang bukti batubara tersebut pihaknya menjawab, “kan perkara ini sudah lama mas, hampir 2 tahun. kena panas , kena hujan, kan kita tau sendiri sifat batubara kan sangat sensitif, kena panas tebakar, kalau kena air akan menyusut, jadi penyusutan batubara itu mutlak karena faktor alam.” Sahut Masnur.

Untuk jumlah pasti barang bukti batubara saat ini yang disita untuk Negara pihaknya menjawab “untuk jumlah pasti kami belum bisa memastikan karena semua itu masih dalam pemeriksaan dan penghitungan TIM AHLI, jadi kami belum bisa memberikan nilai atau jumlahnya.” Terang Masnur.
insert : barang bukti batubara


Jelas disini masih ada yang ditutupi menurut sumber terpercaya dalam berita acara serah terima barang rampasan tercantum jumlah batubara yang disita untuk Negara hanya sebanyak 4 m3, jelas penyusutan yang sangat signifikan dari jumlah awal kurang lebih sekitar  5,046,821 MT kini menjadi 4 m3.

Terkait posisi penyimpanan barang bukti batubara tersebut masnur menjawab “hmmm kayaknya ada di benowo.” Jawab masnur.

Jelas disini ada perbedaan antara keterangan Masnur selaku ketua tim JPU dan lila sebagai angggota tim JPU sangat lah berbeda , Lila mengatakan “tempat penitipan barang bukti batubara ada digudang osowilangon”  tetapi Masnur mengatakan “ada didaerah benowo”. Dimanakah barang bukti tersebut disimpan, dan siapakah yang bisa dipercaya ? “Masnur atau Lila” (TIM) …. Bersambung (nantikan penelusuran nya di Tabloid Metro Bhayangkara News Edisi 84 1 april 2015)

Selasa, 17 Februari 2015

Proses pendataan melalui sistem informasi manajemen objek pajak (SISMIOP) diduga banyak merugikan masyarakat desa dekatagung kecamatan sangkapura


kepala desa dekatagung saat menerima salah satu warganya yang mengeluhkan status kepemilikan tanah keluarganya
Gresik, Metro Bhayangkara News Online. Rancuhnya data kepemilikan tanah (objek pajak) di Desa dekatagung kecamatan sangkapura dipicu dari pelaksanaan pendataan melalui sistem informasi manajemen objek pajak (sismiop) yang dilakukan pada tahun 2003. 

Pasalnya dalam proses pendataan melalui sismiop dilakukan secara asal-asalan karena tidak berdasarkan kondisi dilapangan.

Hal tersebut berawal ketika salah satu warga yang mengeluhkan nasibnya kepada Kepala Desa dekatagung Kecamatan Sangkapura pak Zuhri terkait status kepemilikan tanah (objek pajak) milik keluarga nya yang berganti nama orang lain.

"Dan bukan saya saja pak yang mengalami hal ini", Tutur Imamuddin kepada media ini, Lanjut Imamuddin, "banyak juga masyarakat lainnya yang mengalami hal sama seperti saya, namun banyak juga yang sudah patah semangat karena tidak pernah mendapatkan titik terang".Terang pria yang akrab dipanggil Ending. 

"Namun saya bertekad untuk berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mendapatkan keadilan, karena bagaimana pun juga sesuatu yang salah harus dibenarkan, dan yang bengkok harus diluruskan". Tegas Ending dengan nada kesal. 

Ditempat yang sama kades dekatagung Bapak Zuhri juga menerangkan, "pada sismiop 2003 tersebut dilaksanakan, itu masih bukan saya yang menjabat sebagai Kades, namun pak Ikhlas Mahdar, dan jujur saja pak saya memangku tugas dan jabatan sebagai Kades tahun 2007 tidak satupun surat dari pejabat lama yang diberikan sama saya, yaa yang saya tau city blok hasil sismiop, tanah tersebut sudah keluar atas nama yang sekarang, selebihnya saya tidak tau". Terangnya. 

"Sepengetahuan saya proses pelaksanaan sismiop 75% diukur diatas meja, bukan berdasarkan kondisi fisik dilapangan, kan saya juga posisi pada saat itu ya sebagai warga juga pak".Tutur Zuhri. 

Sambung Zuhri, "dan pengukuran tersebut dilakukan berdasarkan keterangan sepihak dari pengelola tanah, yang berbeda dengan data pemilik buku desa", makanya saya juga bingung kok "tikus suka makan tanah".Papar Zuhri sambil mengakhiri pembicaraan. 

Hingga berita ini diturunkan media ini (tim) belum bisa mendapatkan konfirmasi dari mantan kades desa dekatagung.  Bersambung.... (Tim)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More