Disana Bermusuhan Disini Syukuran

Bentrok antara oknum Polri dan TNI masih sering terjadi, seperti peristiwa di Batam baru-baru ini. Tetapi di Surabaya hubungan antara personil cukup mesra

KPK dan BNN - Karena Polisi Tak Dipercaya Lagi

"Sekarang sudah ada BNN dan KPK. Bukan tidak mungkin, akan muncul lembaga baru jika kita (polisi) dinilai tidak optimal, tidak dipercayai lagi," ungkap Sutarman

Polda Kaltim Minim Ungkap Korupsi

Dalam setahun terakhir, Unit Tipikor Polres Balikpapan belum sekali pun melanjutkan kasus tipikor ke tahap penyidikan. Polres Kutai Kartanegara menjadi salah satu yang terbaik dalam penanganan korupsi.

Awasi Lebih Ketat DPRD dan Pimpinan Daerah

Sebenarnya jika mengacu pada praktik korupsi dan politik uang, dua jenis pemilihan kepala daerah itu sama saja rawannya.

Polri dan TNI Jangan Diadu Domba Mafia BBM

Kompolnas : Kasus penembakan oknum Polri dan TNI ada hubungan sebab-akibat terkait serangkaian kasus yang menyebabkan dua institusi negara yakni TNI dan Polri seperti diadu domba.

Rabu, 01 Oktober 2014

WARNING

PENGUMUMAN




Yth. Kepada para pembaca dan nara sumber dimana pun berada. Waspadalah !!! terhadap oknum-oknum wartawan bodrex yang mengatas namakan  wartawan Metro Bhayangkara News. 

Wartawan Media Nasional Metro Bhayangkara dalam melakukan tugas-tugas jurnalistik selalu dibekali dengan kartu pers , surat tugas dan namanya tercantum dalam box redaksi.

Bilamana ada oknum yang mengaku wartawan Metro Bhayangkara News dan namanya tidak tercantum dalam box redaksi segala tindak tanduk nya bukan tanggung jawab Redaksi Media Metro Bhayangkara. 

Demikian pengumuman ini kami buat, atas perhatian dan kerja samanya disampaikan terima kasih.



                                                                                                      Hormat Kami



                                                                                                       REDAKSI

Senin, 29 September 2014

Hampir Sejuta Pelajar Mengkonsumsi Narkoba


Jakarta, Metro Bhayangkara >

Pengaruh narkoba telah merambah ke berbagai kalangan. Bukan hal aneh bahwa peredaran narkoba dikalangan pelajar sudah semakin parah. Berdasarkan hasil Survei Badan Narkotika Nasional (BNN) terkait penggunaan narkoba tercatat sebanyak 921.695 orang atau sekira 4,7 persen dari total pelajar dan mahasiswa di Tanah Air sebagai pengguna barang haram tersebut.

"Hal ini harus menjadi kekhawatiran bersama bangsa ini dan bukan hanya menjadi tugas pemerintah saja, melainkan peran serta dari seluruh kalangan, termasuk kalangan pelajar," ungkap elaksana Tugas Deputi Bidang Pencegahan BNN Gun Gun Siswadi, dalam suatu diskusi bersama pelajar SMAN 66, di Radio DFM, Jakarta, Minggu (28/9/2014).

Antusiasme pelajar SMAN 66 dihari libur terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba membawa mereka untuk turut menjadi perpanjangan tangan pemerintah. "Menjadi relawan secara sukarela dari kalian kepada teman-teman yang belum sempat hadir akan membantu penyalahgunaan narkoba bagi generasi pemuda berkurang angkanya," tambah Gun Gun.

Dalam diskusi tersebut juga hadir vokalis Grup Band D'Rain, Indra Prasta yang ikut mengajak para pelajar untuk hidup sehat dan keren tanpa narkoba. Menurut dia, masa SMP dan SMA merupakan masa-masa pencarian jati diri maupun pembuktian untuk diterima dalam suatu lingkungan pergaulan, masa rawan di mana para pengedar akan mengejar dan berusaha menghancurkan generasi muda.

"Justru teman-teman harus berbangga bisa keren tanpa narkoba, temen-temen sudah bisa mendapat informasi bahaya penyalahgunaan narkoba untuk pembentengan diri, ketika masuk bangku kuliah teman-teman sudah mempunyai cara untuk menolak narkoba," jelas Indra.

Buat Indra, lebih baik berkarya untuk terlihat keren dan diterima dalam suatu lingkungan pergaulan, daripada menyalahgunakan narkoba yang hanya menawarkan instant effect dan menimbulkan kematian sia-sia.

Masa depan bangsa, lanjut Indra, bergantung sepenuhnya pada upaya pembebasan kaum muda dari bahaya narkoba. Seharusnya pelajar senantiasa berfikir jernih untuk menghadapi globalisasi teknologi dan globalisasi yang berdampak langsung pada keluarga dan remaja penerus bangsa khususnya.

"Kita harus memerangi kesia-siaan yang di akibatkan oleh narkoba menjadi harapan setiap peserta yang hadir pada diskusi tersebut," pungkasnya. (okz)

Hadiah Wali Kota Rp10 Juta Jika Tangkap Penjahat


Lubuklinggau, Metro Bhayangkara >

Marak dan tingginya kasus kriminalitas di Kota Lubuklinggau sehingga sangat meresahkan masyarakat membuat Wali Kota Lubuklinggau H SN Prana Putra Sohe menjanjikan warganya uang Rp2,5 -Rp10 juta jika berhasil menangkap penjahat. Menurut Wali Kota Lubuklinggau, H SN Prana Putra Sohe, siapapun termasuk aparat kepolisian diberikan reward Rp2,5 juta hingga Rp10 juta jika berhasil menangkap pelaku kejahatan.

"Siapapun bisa mendapatkan reward pribadi dari saya. Baik itu warga atau aparat penegak hukum. Besaran hadiah uang disiapkan sesuai kasus kriminal dilakukan oleh pelaku," ungkap SN Prana Putra Sohe, Minggu (28/9/2014).

Nanan panggilan akrab SN Prana Putra Sohe menjelaskan, dicontohkan reward uang diberikan senilai Rp5 juta akan diberikan kepada siapapun yang dapat menangkap pelaku kejahatan dengan kekerasan (curas), pencurian dengan kendaraan bermotor (curanmor) dan pelaku perampokan."Pokoknya pelaku yang ditangkap dilihat dari kasusnya. Hadiah yang disediakan mulai Rp2,5 juta sampai Rp10 juta dari saya pribadi," jelasnya.

Nanan juga menegaskan, belakangan ini tindak kriminalitas di Kota Lubuklinggau cukup tinggi. Hal itu
dikarenakan banyak faktor. Salah satunya Kota Lubuklinggau letak geografis daerah ini yang diapit oleh beberapa daerah tetangga seperti, Kabupaten

Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Kabupaten Mura dan Kabupaten Muratara. Lubuklinggau bisa dikatakan sentra pertemuan ekonomi berbagai daerah lainnya. Meningkatnya kriminalitas terjadi hampir di seluruh Indonesia. Diduga dipengaruhi komoditi perkebunan seperti harga getah karet sedang tidak menentu.

Pencegahan tindak kriminalitas tidak dapat serta merta dibebankan kepada aparat penegak hukum. Namun butuh kepedulian dari seluruh elemen masyarakat. "Saya juga akan meminta kepada seluruh Ketua RT dan masyarakat mengaktifkan kembali pos kamling di wilayahnya masing-masing. Mari kita bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan," ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Kota Lubuklinggau, AKBP Dover Cristian LG mengatakan, reward diberikan Wali Kota Lubuklinggau sebagai perangsang positif untuk masyarakat yang sama-sama menjaga situasi kamtibmas. "Diharapkan masyarakat tidak melakukan tindakan anarkis saat melakukan penangkapan para pelaku kejahatan berpikir melakukan aksi kejahatan," pungkasnya. (sn)

Kompolnas: Polri dan TNI Jangan Diadu Mafia BBM


Jakarta, Metro Bhayangkara >
Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengingatkan tim investigasi insiden penembakan Polri dan TNI yang saat inimasih bertugas di Kepulauan Riau agar tetap memfokuskan penyidikan pada mafia bahan bakar minyak (BBM). Kedua institusitersebut juga diimbau mengusut tuntas masalah BBM di wilayah provinsi terkait secara maksimal.

"Kami mengamati saat ini masalah penembakan hingga ada anggota TNI yang terluka sebagai akibat dari proses penegakan hukum di TKP penggeledahan kasus BBM justru jadi fokus utama. Itu yang patut dicermati. Konsentrasi penyelidikan jangan hanya penembakan tapi soal mafia BBM mestinya lebih serius diungkap," ujar anggota Kompolnas Edi Saputra Hasibuan kepada wartawan, Senin (29/9/14)

Menurut Edi insiden penembakan di lokasi kejadian hingga ada yang terluka hendaknya bisa diselesaikan secara damai. Polri dan TNI harus terus bergandengan tangan bahu membahu melibas mafia migas.

Sebaliknya masalah utamanya mafia BBM jangan justru jadi kendur. Mengingat dalam kasus penembakan oknum Polri dan TNI tersebut ada hubungan sebab-akibat terkait serangkaian kasus yang menyebabkan dua institusi negara yakni TNI dan Polri seperti diadu domba.

Komisaris Kompolnas yang juga mantan Ketua FWP (Forum Wartawan Polri) itu menambahkan kini kasus penembakan tersebut lebih memprihatinkan lagi karena seolah Polri dan TNI menjadi korban adu domba mafia BBM.

Padahal masalah yang seharusnya segera dituntaskan TNI dan Polri adalah mafia BBM itu sendiri yang justru mobilitasnya meningkat dan sesungguhnya menimbulkan kerugian negara hingga trilunan rupiah setiap bulannya. (sp)

Polisi Bekuk 5 Pengedar Pil Koplo


Surabaya, Metro Bhayangkara >
Samwembi (23) dan Rachmat (19) harus menginap di ruang tahanan Polrestabes Surabaya. Warga Jl Kupang Gunung Timur dan Panjang Jiwo Surabaya ini diciduk polisi Satresnarkoba Polrestabes Surabaya karena menyimpan ratusan pil LL atau pil koplo dirumahnya. Tertangkapnya dua pemilik pil koplo itu, berawal dari informasi yang diperoleh anggota Satreskoba Polrestabes Surabaya bahwa Samwembi kerap menjual pil koplo ke teman-temannya.

Setelah dilakukan penyelidikan dan informasinya akurat, Saresnarkoba Idik II di bawah pimpinan Iptu Wawan Aldomoro akhirnya melakukan penggrebegan terhadap rumah Samwembi. Hasilnya, sebanyak 18 bungkus plastik pil jenis LL  ditemukan petugas di dalam kamar tersangka.

"Barang (pil koplo) dibungkus plastik kecil-kecil. Setelah dihitung, ada sebanyak 175 butir pil jenis LL," sebut Wawan Aldomoro, Kanit Idik II Satreskoba Polrestabes Surabaya, Minggu (28/9/2014).

Dari penangkapan dan pemeriksaan, Samwembi ternyata kerap menyuplai kepada Rachmat. Dia merupakan pengedar yang berkompot dengan Samwembi. Rachmad merupakan pemakai dan mengedarkan pil koplo kepada pmakai di daerah Surabaya Selatan.

Rachmad diringkus di rumahnya Jl Panjkang Jiwo. Dari rumahnya, petugas cuma menemukan 10 butir pil jenis LL, satu tas dan satu buah HP. "Keduanya ternyata sudah lama mengedarkan pil jenis LL," ucap Wawan.

Samwembi berkelit jika sudah lama menjalani profesi pengedal pil koplo. Dia mengaku baru tahun ini mengedarkan barang haram tersebut. "Saya baru, barang hanya diedarkan kepada teman-temannya," aku Samwembi. Selain mengamankan ratusan pil koplo dari tangan Samwembi dan Rachmat, Idik II Satreskoba juga menangkap lima pengedar narkoba jenis sabu-sabu.

Kelima pengedar sabu yang diamankan, yakni Arif (38), Menganti Gresik, Bayu (41), Kedung Tarukan Wetan Surabaya, dan Sujud (45), Kedung Pengkol Surabaya. Mereka disergap saat membawa sabu-sabu ketika berada di Jl Embong Malang. Dari tiga orang itu, sabu seberat 0,28 gram dan uang Rp 215.000 diamankan polisi.

Kecuali tiga pelaku narkoba lain, Idik II Satresnarkoba mengamankan Harpomo (30), warga Wonorejo Surabaya dan Pandri (27), warga Jl Pandegiling. Dari tangan mereka, petugas menemukan 1 gram sabu dan uang Rp 1,7 juta. Jadi ada tujuh pengedar narkoba yang diringkus polisi. "Semuanya adalah pengedar narkoba," cetus Wawan. (tri)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More